Hepatitis C

Artikel Oleh
Prof. Samsuridjal Djauzi
 
HIV dan Hepatitis
 
Dewasa ini ko-infeksi (infeksi bersama) hepatitis dan HIV mulai mendapat perhatian. Jika TBC merupakan penyebab kematian utama pada infeksi HIV maka hepatitis kronik dapat merupakan ancaman bagi Odha yang telah lolos dari infeksi oportunistik bahkan tampak telah pulih kesehetannya. Hepatitis yang disebabkan virus (B atau C) dapat menjadi kronik sehingga sebagian akan berlanjut menjadi sirosis hati dan kanker hati. Keadaan ini merupakan keadaan yang sulit diatasi bahkan merupakan ancaman jiwa bagi yang mengidapnya. Karena itulah kita perlu melakukan skrining, diagnosis dan terapi hepatitis pada infeksi HIV. Kekerapan hepatitis B dan C pada infeksi lebih tinggi daripada bukan HIV. Pada populasi bukan HIV kekerapan hepatitis B sekitar 5-10% sedangkan hepatitis C setikar 4%. Namun kekerapan pada hepatitis B dan C pada infeksi HIV lebih tinggi terutama pada pengguna narkoba suntikan yang menggunakan jarum secara bersama. Pada poliklinik Pokdi di RS Ciptomangunkusumo Jakarta diantara Odha yang berobat hepatitis B sekitar 10% dan hepatitis C sekitar 68%. Memang benar sebagian besar Odha yang berobat di poliklinik ini pernah menggunakan narkoba suntikan. Selain itu HIV amat mempengaruhi perjalanan hepatitis. Hepatitis B maupun C kronik pada Odha perjalanannya menjadi progresif dibandingkan dengan hepatitis kronik pada bukan HIV. Karena itu setiap Odha sebaiknya menjalani tes untuk mengetahui pakah mereka tertular hepatitis B atau C. Tes yang dianjurkan adalah tes HBsAg dan anti HCV. Tes ini masih cukup malah (sekitar 200.000 rupiah) namun sedang diusahakan untuk menjadikan pemeriksaan paset ini menjadi lebih terjangkau. Siapa lagi yang memerlukan paset ini menjadi lebih terjangkau. Siapa lagi yang memerlukan tes hepatitis ini? Tes hepatitis dianjurkan pada ibu hamil, petugas kesejetan, kelompok homoseksual, pasien yang sedang menjalani cuci darah. 
 
Bahkan tak ada salahnya semua orang memeriksakan diri karena kekerapan hepatitis B dan C negeri kita termasuk tinggi. Apa upaya pencegahan yang dapat dilakukan? Hepatitis B dan C menular melalui cairan tubuh jadi upaya pencegahannya hampir serupa dengan HIV. Yaitu menghindari penggunaan jarum suntik bersama dan hubungan seksual yang tak aman. Namun hepatitis B jauh lebih mudah menular dibandingkan HIV sehingga juga dapat menular melalui pisau cukur atau pembuatan tato jika jarumnya tercemar. Untuk hepatitis B sudah tersedia vaksinnya. Bahkan sejak tahun 1997 program imunisasi pada anak telah dilengkapi dengan hepatitis B. Sedangkan orang dewasa yang belum mempunyai antibodi terhadap hepatitis B perlu menjalani vaksinasi hepatitis B, sayangnya sampai sekarang vaksin hepatitis C masih dalam penelitian sehingga belum ada imunisasi hepatitis C.
 

 
 
For more recent updates -
please LIKE us at www.facebook.com/TEMANTEMAN.ORG
Follow us at twitter.com/heytemanteman
Watch our Videos at www.youtube.com/temantemanindonesia