Apa Itu Sifilis

Apa itu Sifilis?

Sifilis adalah penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan oleh Bacterium Treponema pallidum. Penyakit ini sering disebut ‘peniru ulung’ karena banyak tanda-tanda dan gejalanya tidak dapat dibedakan dari penyakit-penyakit lain.




Bagaimana orang bisa terkena Sifilis?

Sifilis ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung dengan luka sifilis. Luka terjadi terutama pada kelamin bagian luar, vagina, anus, atau di dalam dubur. Luka dapat juga muncul di bibir dan mulut. Perpindahan bakteri penyebab sifilis terjadi ketika hubungan seks vagina, anal, dan oral. Ibu hamil yang menderita sifilis dapat menularkan penyakitnya pada bayi yang dikandungnya. Sifilis tidak dapat menular melalui kontak dengan dudukan toilet, pegangan pintu, kolam renang, bak mandi, baju dan peralatan makan yang dipakai bersama.


Apa tanda dan gejalanya pada orang dewasa?

Banyak orang yang terinfeksi sifilis tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun, akan tetapi dapat berakibat komplikasi jika tidak diobati. Meskipun penularan terjadi dari orang ke orang akibat luka sifilis pada stadium primer dan sekunder, seringkali luka ini tidak tampak. Jadi penularan dapat terjadi dari penderita yang tidak menyadari penyakitnya.

Stadium Primer   

Stadium primer sifilis biasanya ditandai dengan penampakan luka tunggal (yang disebut chancre), tapi dapat juga luka tersebut lebih dari satu. Waktu yang diperlukan mulai dari infeksi hingga gejala awal muncul bervariasi antara 10 sampai 90 hari (rata-rata 21 hari). Luka sebagai gejala sifilis ini biasanya kenyal, kecil, bundar, dan tidak menyebabkan nyeri. Luka akan tampak pada area dimana sifilis masuk ke dalam tubuh. Luka ini berlangsung selama 3 sampai 6 minggu, dan akan sembuh tanpa pengobatan. Namun, apabila tidak dilakukan perawatan lebih lanjut, infeksi dapat berkembang ke stadium sekunder.

Stadium Sekunder

Ruam kulit dan lesi pada kelenjar lendir menandai stadium sekunder penyakit sifilis. Tahap ini biasanya dimulai dengan tumbuhnya ruam pada satu tempat atau lebih pada tubuh. Ruam biasanya tidak gatal. Ruam dapat muncul setelah luka sembuh atau beberapa minggu setelahnya. Ciri ruam pada stadium sekunder ini tampak kasar, merah, atau bercak coklat kemerahan pada kedua telapak tangan dan kaki. Akan tetapi, ruam dalam bentuk yang berbeda mungkin juga muncul pada bagian tubuh lain, kadang-kadang menyerupai bercak yang disebabkan penyakit lain. Kadang-kadang ruam pada stadium sekunder ini samar sehingga tidak kelihatan.


Selain ruam, gejala sifilis pada stadium sekunder antara lain demam, pembengkakan kelenjar getah bening, radang tenggorokan, rambut rontok merata, sakit kepala, penurunan berat badan, nyeri otot, dan kelelahan. Gejala stadium sekunder akan menghilang dengan sendirinya, namun apabila tidak ditangani, infeksi akan berkembang menuju stadium laten dan mungkin stadium akhir dari penyakit ini.

Stadium Laten dan Akhir

Stadium laten (tersembunyi) sifilis dimulai setelah gejala pada fase primer dan sekunder menghilang. Tanpa pengobatan, orang yang terinfeksi sifilis akan terus mengidap sifilis meskipun tanpa gejala. Stadium laten ini dapt berlangsung hingga tahunan.

Stadium akhir sifilis dapat berkembang pada 15 persen penderita yang tidak dirawat dan dapat muncul 10-20 tahun sejak pertama terinfeksi. Pada tahap akhir, sifilis mungkin merusak organ bagian dalam, termasuk otak, saraf, mata, jantung, pembuluh darah, liver, tulang, dan persendian. Tanda dan gejala pada stadium akhir sifilis meliputi kesulitan gerakan koordinasi otot, kelumpuhan, mati rasa, buta bertahap, dan demensia. Kerusakan ini bisa parah dan menyebabkan kematian.


Bagaimana Sifilid diagnosa?

Beberapa penyedia perawatan kesehatan dapat mendiagnosa sifilis dengan menguji sampel dari luka (luka infeksi) dengan menggunakan mikroskop khusus yang disebut dark-field microscope. Jika terdapat bakteri sifilis pada luka, bakteri tersebut akan tampak di mikroskop. Tes darah adalah cara lain untuk memastikan apakah seseorang terjangkit sifilis. Tidak lama setelah terjadi infeksi, tubuh akan memproduksi antibodi sifilis yang dapat dilihat dengan tes darah yang akurat, aman, dan murah. Kadar rendah antibodi dapat bertahan dalam darah selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun bahkan setelah penyakit tersebut sembuh.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Apa Hubungan Sifilis dan HIV?

Luka pada alat kelamin (chancres) karena sifilis dapat mempermudah penularan dan terjangkitnya infeksi HIV seksual. Risiko HIV akan meningkat hingga 2-5 kali lipat. PMS yang menyebabkan luka seperti ruam, bisul, atau luka pada kulit atau kelenjar lendir, seperti sifilis, mengganggu pembatas yang melindungi infeksi. Bisul kelamin karena sifilis dapat dengan mudah berdarah, dan ketika darah ini kontak dengan lendir mulut dan anus selama hubungan seks, meningkatkan infeksi dan kerentanan terhadap HIV. Adanya PMS lain juga merupakan acuan penting kemungkinan terjangkitnya HIV karena PMS adalah tanda adanya perilaku yang berhubungan dengan penularan HIV.


---------------------------------------------------------------------------------------------

Bagaimana pengobatan Sifilis?

Sifilis mudah disembuhkan pada stadium awal. Suntikan antibiotik seperti penisilin dapat menghentikan sifilis pada penderita yang terinfeksi kurang dari setahun. Dosis tambahan diperlukan bila penderita telah terinfeksi selama lebih dari setahun. Bagi penderita yang alergi terhadap penisilin, tersedia antibiotik lain yang dapat mengobati sifilis. Tidak ada pengobatan pengobatan tradisional atau obat-obatan bebas yang dapat mengobati sifilis.Antibiotik akan membunuh bakteri sifilis dan mencegah stadium berlanjut, namun tidak memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.
Karena perawatan yang efektif untuk mencegah berkembangnya sifilis telah tersedia, penting bagi orang yang memiliki kebiasaan seksual berisiko terkena STD melakukan tes skinning terus-menerus.
Penderita sifilis dalam tahap perawatan harus berhenti melakukan kontak seksual terhadap pasangannya sampai luka-lukanya sembuh sempurna. Penderita Sifilis harus menginformasikan kepada pasangannya sehingga pasangannya dapat melakukan tes sifilis dan diobati bila ternyata juga terkena infeksi.
Apakah Sifilis Dapat Muncul lagi?

Pernak terjangkit sifilis tidak menjamin seseorang untuk tidak terkena lagi. Walaupun mengikuti pengobatan sampai sembuh, orang masih rentan terinfeksi kembali jika tidak berhati-hati. Hanya tes laboratorium yang dapat memastikan apakah seseorang terjangkit sifilis karena luka sifilis dapat tersembunyi pada vagina, dubur, atau mulut, yang mungkin tidak akan kelihatan kalau pasangan seks menderita sifilis. Berkonsultasi dengan penyedia perawatan kesehatan akan membantu memastikan perlunya tes ulang sifilis setelah pengobatan.


Bagaimana mencegah Sifilis?

Cara paling meyakinkan untuk mencegah penularan sifilis tentu saja sama dengan cara mencegah penyakit menular seksual lainnya, yaitu berhenti melakukan kontak seksual dalam jangka waktu lama dan memiliki satu pasangan seksual tetap yang telah dites dan dinyatakan tidak terinfeksi.

Menghindari alkohol dan obat-obat terlarang juga membantu mencegah penyebaran sifilis karena aktivitas tersebut meningkatkan perilaku seksual berisiko. Penting bagi pasangan untuk membicarakan secara terbuka mengenai statusnya akan HIV dan riwayat penyakit menular seksual lain sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan.

Luka pada alat kemaluan, seperti sifilis, dapat muncul pada pria dan wanita. Luka tersebut dapat muncul pada area yang terlindungi kondom maupun area yang tidak terlindungi. Penggunaan kondom lateks dengan benar dan konsisten dapat menurunkan risiko penularan sifilis, herpes genital dan syankroid, hanya bila area yang terinfeksi terlindungi.

Kondom yang mengandung pelumas berspermisidal (terutama-9) tidak lebih efektif daripada kondom biasa untuk melindungi diri dari penyakit menular seksual. Penggunaan kondom dengan lubrikasi N-9 ini tidak direkondasikan dalam pencegahan PMS/HIV. Penularan penyakit menular seksual, termasuk sifilis, tidak dapat dicegah dengan membasuh area genital,  berkemih, ataupenggunaan antiseptik setelah berhubungan seks . Adanya pembuangan yang tidak biasa, luka atau ruam,  terutama di bagian selangkangan merupakan tanda-tanda serius untuk menghentikan hubungan seksual dan selekas mungkin pergi ke dokter.

The CDC’s 2006 Petunjuk Penanganan Penyakit Menular Seksual (PMS) menyarankan kaum gay (MSM)yang berisiko terkena PMS melakukan tes sifilis tiap tahun.



For more recent updates -
please LIKE us at www.facebook.com/TEMANTEMAN.ORG
Follow us at twitter.com/heytemanteman
Watch our Videos at www.youtube.com/temantemanindonesia